Tak Hanya Teori, TADA 2026 di Malang Latih Peserta Susun Strategi Advokasi dari Kasus Nyata

Literasi Hukum Masih Rendah, Masyarakat Butuh Pendekatan Praktis

Malang, 14 Mei 2026 — Rendahnya literasi hukum masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Banyak masyarakat sebenarnya memiliki hak, tetapi tidak tahu cara memperjuangkannya.

Melihat kondisi ini, PAHAM Indonesia menggelar Training Advokasi Dasar (TADA) Batch V 2026 di Yayasan Asy Syafaat, Kota Malang.

Kegiatan ini mengangkat tema “Berani Bersuara Membela Hak dengan Cerdas dan Beretika”. Fokus utamanya jelas: membekali masyarakat dengan kemampuan advokasi yang bisa langsung digunakan.


Tidak Sekadar Teori, Peserta Langsung Praktik

Berbeda dari pelatihan hukum pada umumnya, TADA 2026 tidak berhenti di teori. Panitia merancang sesi berbasis praktik agar peserta benar-benar memahami proses advokasi.

Peserta mengikuti Focus Group Discussion (FGD) berbasis studi kasus. Mereka menganalisis masalah, menyusun strategi, lalu mempresentasikan solusi secara langsung.

Fasilitator mendampingi setiap kelompok selama proses berlangsung. Pendekatan ini melatih peserta berpikir kritis dan sistematis.


Menjawab Kesenjangan antara Teori dan Praktik

Panitia menegaskan bahwa banyak masyarakat gagal menghadapi persoalan hukum karena tidak tahu langkah awal.

“Banyak orang punya masalah hukum, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Kami ingin peserta mampu menyusun langkah advokasi secara nyata dan terstruktur,” ujar perwakilan penyelenggara.

Pernyataan ini menyoroti masalah utama: bukan sekadar kurang pengetahuan, tetapi kurang keterampilan praktis.


Peserta Aktif dan Terlibat Langsung

Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga masyarakat umum. Mereka terlibat aktif dalam setiap sesi.

Diskusi berlangsung dinamis. Peserta saling bertukar pandangan, menguji argumen, dan memperbaiki strategi advokasi yang mereka susun.

Aktivitas ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran partisipatif jauh lebih efektif dibanding metode satu arah.


Dorong Kolaborasi dan Program Berkelanjutan

Selain pelatihan, PAHAM Indonesia juga memperkenalkan program “Sinau Advokasi”. Program ini menjadi forum diskusi rutin untuk membahas isu hukum aktual.

PAHAM juga membuka peluang kolaborasi dengan mahasiswa dan komunitas. Tujuannya jelas: memperluas akses edukasi hukum di masyarakat.

“Kami ingin peserta tidak berhenti di pelatihan ini. Mereka harus menjadi penggerak di lingkungannya,” tambah panitia.


Membangun Masyarakat yang Sadar dan Berdaya Secara Hukum

Melalui TADA 2026, PAHAM Indonesia menegaskan komitmennya dalam membangun literasi hukum yang inklusif.

Mereka tidak hanya mengajarkan teori. Mereka membangun keberanian, pola pikir kritis, dan kemampuan bertindak.

Jika pendekatan seperti ini konsisten dilakukan, dampaknya tidak kecil: masyarakat akan lebih siap menghadapi persoalan hukum secara mandiri.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *